Bukan Hanya Aku Yang Menolak Rezeki Itu

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya dengan judul “Menolak rezeki yang datang cuma sekali“. Ya ternyata memang bukan hanya saya yang menolak rezeki tawaran S2 dari kampus tempat saya menyelesaikan S1 tersebut.
Seorang kakak tingkat sekaligus seorang teman, sekarang dia mengabdi dikampus untuk menjadi staff kampus sekaligus menjadi dosen. Sungguh aneh, teman saya ini sedang menjadi dosen dan ditawari untuk melanjutkan pendidikan ke S2 dari kampus, bahkan akan menerima gaji setiap bulannya untuk mencukupi biaya hidupnya selama kuliah, namun sapa nyana ternyata dia sama halnya dengan saya, menolak tawaran tersebut. Namun entah apa alasan dia menolak, saya tidak paham. Saya sempatkan bertanya “Kenapa tidak mengambil beasiswa itu?”dia pun menjawab dengan sigap “Tidak tahun ini, mungkin tahun depan”.
Well, dia sebenarnya sudah lumayan berumur jika dibandingkan dengan saya. Sekali lagi, ini, membuka mata saya bahwa tidak semua orang berpikiran sama, kendati hal tersebut adalah sesuatu yang sekiranya berpihak ke kita, namun keberpihakan tersebut tidak kita inginkan pada saat itu.

Menolak Rezeki Yang Datang Cuma Sekali

Pagi itu, dikampus sedikit gaduh. Dosen-dosen hendak bersiap-siap untuk memulai rapat mingguan yang biasa digelar saban hari Sabtu. Sebagai mahasiswa semester akhir (7), dan sudah menyelesaikan Skripsi sampai ke tahap sidang dan sudah dinyatakan lulus, maka sudah sewajarnya untuk mengurus keperluan administrasi.


Disela-sela kegaduhan tersebut, seorang ketua jurusan dari program Teknik Informatika menghampiri saya, selagi beliau berkata “apakah kamu mau beasiswa S2 ?” Sebagai mahasiswa yang sudah dinyatakan lulus, mendengar tawaran tesebut merupakan sesuatu yang sangat berharga dan tidak akan datang berkali-kali, maka saya dengan sigap menjawab dengan jawaban yang sedikit diplomatis “Saya pikir dahulu pak”, si dosen pun tidak kalah sigap dengan memberi balasan “Batas berpikirnya sampai akhir bulan Mei “.

Ada banyak kabar gembira yang saya terima minggu itu. Satu diantara kabar gembira yang saya terima tersebut adalah perihal diterimanya saya bekerja disalah satu ISP ternama di tanah Jawa. Namun sayang lamaran pekerjaan tersebut saya tolak dengan beberapa alasan yang susah untuk ditulis. Kabar gembira tentang beasiswa ini, lantas saya sampaikan ke orang tua, sekaligus minta saran dan pendapat. Sayang sekali, seperti kabar gembira lainnya, tak satupun yang direstui orang tua ku.

Ibu dan Bapak dirumah ternyata tidak setuju anaknya mengambil beasiswa dengan embel-embel ada ikatan dinas dengan instansi pemberi beasiswa. Sejujurnya saya terlahir dari keluarga yang kurang mampu beberapa puluh tahun silam. Alhamdulillah berkat kerja keras, Saya bisa menginjakkan kaki ditanah Jawa untuk belajar dibangku kuliah.

Well, tawaran beasiswa S2 ini sudah dua kali menghampiri. Pertama ditawari ke India atau China oleh orang nomor satu di kampus ini, namun sayang, lagi-lagi saya harus terhambat dengan rasa tanggung jawab sebagai anak laki-laki untuk mengurus orang tua, dan adik perempuan ku yang semata wayang. Terlebih sekarang adik ku sedang dalam masa pubertas dan tingkat manjannya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya, jadi H2C untuk jauh-jauh dari tanah Indonesia.

Well, akhirnya saya berlabuh ke salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, yaitu Universitas Brawijaya, agar sewaktu-waktu ingin pulang ke Lombok bisa dengan cepat berangkat menuju bandara, karena biasanya keluarga dirumah minta  pulang dengan mendadak.

Semoga jenjang pendidikan yang akan saya tempuh sekarang ini bisa berjalan dengan lancar, dan semoga Tuhan memberikan kelancaran dengan segala urusan ku.