Haramkah jadi Fotografer


Sebenar nya ini adalah isi pesan diskusi saya dengan Akh Raditya,,tapi karena ada yang meminta maka saya posting Semoga bermanpaat

Para ulama Ahlu Sunnah bersepakat akan keharaman gambar (yang dibuat) oleh tangan, sebagaimana mereka juga bersepakat akan haramnya gambar-gambar yang berfisik (jism) dan patung-patung. Inilah yang disepakati oleh para ulama (keharamannya).

Namun masalah foto memang ada khilaf di kalangan para ulama Ahlu Sunnah, karena masalah ini (fotografi) adalah masalah kontemporer yang belum terjadi di zaman salafush shalih. Sebagian ulama menyamakan antara gambar foto dengan gambar tangan, yaitu hukumnya haram secara mutlak, kecuali pada keadaan tertentu yang mendesak, seperti untuk KTP dan sebagainya.

Sebagiannya lagi berpendapat bahwa hukum foto tidak sama dengan hukum gambar tangan, selama tidak diagungkan. Untuk lebih jelasnya lihat fatwa Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-‘Ubailan hafidzahullah di: http://abusalma.wordpress.com/2009/03/31/transkrip-video-hukum-gambar/

=======================================================
Mungkin penjelasan Syaikh Utsaimin rahimahullah di bawah sedikit membantu
Syaikh Utsaimin ditanya: “Ya Fadhillah As Syeikh, Allah menyaksikan bahwa saya mencintai anda karena Allah. Apa pendapat Syeikh tentang kamera foto, kamera video untuk dokumentasi? Karena kami dimintai okeh divisi pendidikan dan departemen pendidikan [untuk mendokumentasikannya].”

Jawab Syaikh Utsaimin: “Saya katakan pada penanya, semoga Allah mencintainya karena dia mencintai saya karena Allah. Saya berpendapat bahwa video atau fotografi boleh-boleh saja, karena untuk kebutuhan. Dan mengambil gambar dengan video pada hakekatnya bukanlah menggambar karena gambar yang ada di dalam kaset video tidak terbentuk secara jelas, tapi hanya berupa pita kaset yang apabila diputar baru terbentuk gambar.

Adapun fotografi instan (polaroid), yang tidak membutuhkan waktu yang lama, maka yang demikian itu pada hakekatnya tidak digolongkan kedalam jenis lukisan. Jelas? Bukan lukisan, tapi itu adalah pengambilan gambar yang ada di depannya dengan cara menekan tombol. Tapi apakah kamera tersebut melukis wajah? Jawabnya… tidak! Demikian juga mata, tidak juga. Maka hasilnya seperti aslinya yang Allah ciptakan.

Kemudian saya umpamakan kalau saya menulis di kertas lalu difotokopi, apakah hasil fotokopi ini bisa dikatakan tulisan mesin fotokopi atau tulisan saya? Jawablah wahai pemuda soal ini. Saya menulis ‘segala puji bagi Allah, shalawat serta salam atas nabi…’ kemudian saya fotokopi, maka keluarlah hasil fotokopi tersebut. Apakah huruf yang keluar dari alat tersebut tulisan alat atau tulisan saya? Tulisan saya! Inipun sama saja.

Sebab itu sebuah kamera bisa memfoto walaupun tukang fotonya buta. Tinggal dihadapkan kepada objek, jadilah gambar. Tapi kita bertanya, untuk apa dia memotretnya? Jika tujuannya untuk yang haram, maka hukumnya pun haram. Jika tujuannya untuk yang mubah, maka hukumnya pun mubah, atau dalam perkara yang dibutuhkan itu pun boleh.” (Sumber: VCD Nasehat Syeikh Utsaimin (Rahimahullah) Untuk Para Pemuda Sesi tanya jawab, Track 2 – 05 : 50 sampai 08 : 50 Penerbit: Pustaka ‘Abdullah Bahasa: Arab, Text: Indonesia).

Kemudian dalam fatwanya yang lain, beliau menjelaskan: “Adapun mengambil gambar dengan menggunakan alat fotografi, maka hal itu diperbolehkan karena tidak termasuk pada perbuatan melukis. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apa maksud dari pengambilan gambar tersebut? Jika pengambilan gambar (pemotretan) itu dimaksudkan agar dimiliki oleh seseorang meskipun hanya dijadikan sebagai kenangan, maka pengambilan gambar tersebut hukumnya menjadi haram, hal itu dikarenakan segala macam sarana tergantung dari tujuan untuk apa sarana tersebut dipergunakan, sedangkan memiliki gambar hukumnya adalah haram. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa malaikat enggan memasuki rumah yang ada gambar didalamnya, dimana hal itu menunjukkan kepada haramnya memiliki dan meletakkan gambar di dalam rumah.” (Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah, Penerbit Darul Haq).

3 thoughts on “Haramkah jadi Fotografer

  1. wah mantaph nih postingannya, moga2 bisa dijadikan sebagai modal menang di eksklusifimaginaction.com, lumayan gratis jalan2 ke Jepang hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s