Syirik Dan Macam-Macamnya


Syirik Dan Macam-Macamnya

Penulis: Al Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

Allah telah mengambil persaksian dari anak keturunan Adam supaya mereka
mengesakan-Nya dalam beribadah. Artinya ialah agar mereka hidup di atas
aqidah tauhid dan menjauhkan diri dari dosa syirik.

Hal ini dilakukan agar umat manusia, anak keturunan Adam tidak berdalih
dan berkelit di hadapan Allah pada hari kiamat nanti. Allah berfirman
dalam kitab-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkun keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini
sesembahanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul! (Engkau adalah sesembahan
kami), Kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat nanti kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam)
adalah orang-orang lengah terhadap hal ini’ (mengesakan Allah), atau
agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah
mempersekutukan Allah sejak dahulu, sedangkan kami ini adalah anak-anak
keturunan yang datang sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan
membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu’.”
(Al-A’raf: 172-173).

Ayat di atas menunjukan bahwa kebanyakan orang yang terjerumus ke dalam
perbuatan syirik, melanggar persaksian mereka sendiri disebabkan dua
hal:

1. Jahil (bodoh) dan lalai dari memahami tauhid dan syirik.

2. Taqlid buta kepada adat kebiasan nenek moyang.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengetengahkan selayang pandang
tentang syirik dan macam ragamnya, sehingga hal itu bisa dijauhi. Sebab
seluruh model dari bentuk syirik yang berkembang di tengah-tengah
masyarakat pada hari ini berpangkal dari dua faktor di atas. Sehingga
banyak sekali praktek-praktek syirik yang dianggap biasa dan lumrah.

Dengan harapan semoga pembaca yang mulia dapat memetik faedah dari
tulisan yang sederhana ini. Ada sebuah pepatah Arab yang berbunyi: “Aku
kenali kejahatan bukan untuk melaksanakannya, Namun untuk menjaga diri
darinya, Barang siapa yang tidak mengenal kebaikan dan kejahatan,
Dikhawatirkan ia akan terperosok ke dalamnya.” Hudzaifah Ibnu Yaman
juga sering bertanya tentang keburukan kepada Rasulullah guna
menghindarinya.

Definisi Syirik

Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara yang
merupahan hak istimewa-Nya. Hak istimewa Allah seperti: Ibadah,
mencipta, mengatur, memberi manfaat dan mudharat, membuat hukum dan
syariat dan lain-lainnya. Yang dimaksud dengan ibadah adalah semua amal
perbuatan lahir maupun batin yang diridhai dan dicintai oleh Allah.
Contoh-contoh ibadah seperti: Do’a, menyembelih hewan kurban, nadzar,
ruku’, sujud, al-mahabbah (kecintaan), al-khauf (rasa takut), tawakkal,
istighatsah (minta pertolongan di saat kesusahan, isti’adzah (meminta
perlindungan) dan lain-lainnya.

Setiap orang yang memalingkan salah satu daripada hak-hak istimewa
Allah tersebut kepada selain-Nya, seperti memalingkan ibadahnya kepada
selain Allah, maka ia tergolong orang yang melakukan syirik. Dari situ
jelaslah, bahwa hakikat syirik adalah memalingkan ibadah dan hak
istimewa Allah yang lainnya kepada selain Allah, baik kepada nabi,
malaikat, wali dan lain-lainnya. Ataupun kepada benda mati, seperti
bebatuan, pepohonan dan lain-lainnya. Bukan sebagaimana anggapan
sebagian kaum Muslimin, bahwa syirik itu hanyalah dengan menyembah
bebatuan dan pepohonan atau lainnya seperti yang dilakukan kaum
Paganisme (penyembah berhala).

Anggapan keliru itu berpangkal dari kesalahpahaman tentang pengertian
“berhala” (watsan), sebagian orang beranggapan bahwa (berhala) hanyalah
berupa patung-patung yang disembah. Padahal yang benar, bahwa (berhala)
dapat berlaku untuk apa saja, baik berupa makhluk hidup, benda-benda
mati seperti patung, pohon dan lain-lainnya, ataupun berupa benda-benda
yang abstrak seperti hawa nafsu, pemikiran dan lain-lainnya.

Hal ini dilihat dari objek yang disembah. Adapun ditinjau dari perilaku
syirik itu sendiri, banyak sekali kesalahpahaman masyarakat umum
tentang hal tersebut. Mereka menganggap bahwa meminta perlindungan
kepada benda-benda dan tempat keramat bukan termasuk perilaku syirik.
Demikian pula anggapan bahwa “ngalap berkah” ke kuburan para wali (atau
yang dianggap wali) dibolehkan dan lain-lainnya.

Macam-Macam Syirik

Bentuk dan ragam syirik berbeda-beda dari masa ke masa disuatu tempat
dengan tempat lainnya. Setan sengaja memanfaatkan kelemahan dan
kelengahan bani Adam untuk menyuntikkan virus syirik ini ke dalam tubuh
mereka. Bujuk rayu setan supaya terjerumus ke dalam perbuatan maksiat
hanyalah mukaddimah menuju dosa yang terbesar yaitu syirik. Allah telah
memperingatkan hal ini dalam firman-Nya: “Iblis menjawab: ‘Karena
Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi
mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka
dari muka dan dari belahang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan
Engkau tidak akan mendpati kebanyak dari mereka bersyukur (taat)’.”
(Al-A’raf: 16-17).

Bentuk syirik yang dilakukan kaum Nuh adalah menyembah Wadd, Suwaa’,
Yaghuts, Ya’uq dan Nasr, mereka adalah orang-orang shalih sebelum zaman
nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada orang-orang di
zaman itu supaya membuat gambar-gambar dan patung mereka, dan
diletakkan di majlis-majlis yang biasa mereka duduki, guna mengingat
jasa-jasa mereka. Pada waktu itu belum ada pikiran menyembah
patung-patung tersebut. Namun ketika zaman berputar dan generasi telah
berganti serta iimu telah dilupakan/ditinggalkan, akhirnya
patung-patung itu disembah. Demikianlah sejarah terjadinya syirik
pertama sekali. Kisah di atas disitir oleh Imam Bukhari dari Abdullah
bin Abbas di dalam Shahihnya.

Bentuk syirik yang dilakukan oleh Bani Israil adalah menyembah anak
sapi. Mengenai hal ini Allah berfirman: “Dan kaum Musa, setelah
kepergian Musa ke gunung Thur mereka membuat patung anak lembu yang
bertubuh dan bersuara, dari perhiasan-perhiasan emas mereka. Apakah
mereka tidak mengetahui bahwa anak lernbu itu tidak dapat berbicara
dengan mereka dan tidak dapat menunjukkan jalan kepada mereka, mereka
menjadikannya sebagai sesembahan, dan mereka adalah orang-orang yang
dhalim.” (Al-A’raf:148).

Bentuk kemusyirikan kaum Nasrani adalah menuhankan nabi Isa. Mengenai
hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman: “Orang-orang Yahudi
berkata: ‘Uzair itu putra Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata:
‘Al-Masih itu putra Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut
mereka, mereka meniru orang kafir terdahulu. Allah melaknati mereka,
bagaimana mereka sampai berpaling.” (At-Taubah: 30).

Orang-orang Majusi melakukan kesyirikan dalam bentuk menyembah api.
Sedangkan Arab jahiliyah melakukan kemusyirikan dalam bentuk mengambil
pemberi syafa’at dari selain Allah. Mengambil mereka sebagai perantara
kepada Allah, hal itu semua dengan keyakinan bahwa Allah-lah yang telah
menciptakan langit dan bumi. Allah menjelaskan hal ini dalam
firman-Nya: “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah
(berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka kecuali supaya mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az-Zumar: 3).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Bahkan mereka mengambil pemberi
syafa’at selain Allah. Katakanlah: ‘Dan apakah kamu (masih mau
mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki suatupun dan tidak
berakal’.” (Az-Zumar: 43).

Semua itu adalah bukti bahwa perbuatan syirik akan tetap terjadi di
tengah-tengah umat manusia dengan beragam bentuknya. Dalam beberapa
hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya
kepada kita: “Tidak akan datang hari kiamat hingga beberapa kabilah
dari umatku mengikuti kaum Musyirikin, dan hingga beberapa kabilah dar
umatku kembali menyembah berhala.” (HSR Abu Dawud).

Dari Aisyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak
akan hilang siang dan malam hingga al-Latta dan al-Uzza kembali
disembah.” (HSR Muslim). Dari Abu Hurairah. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan datang hari kiamat hingga
wanita-wanita suku Daus thawaf mengitari Dzil Khalasah, berhala yang
dulu disembah suku Daus pada masa jahiliyah di Tabalah (sebuah tempat
di negeri Yaman).”

Hadits-hadits di atas adalah isyarat bahwa umat ini akan kembali
terperosok ke dalam lubang kemusyrikan, disadari ataupun tidak. Apa
yang disebutkan Rasulullah tadi benar-benar menjadi kenyataan. Bahkan
bentuk-bentuk syirik yang dilakukan kaum Muslimin pada hari ini lebih
parah daripada kemusyrikan Arab jahiliyah. Contohnya kaum Tasawwuf,
diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa Rasulullah mengetahui
perkara ghaib, mengatur pemberian rezeki dan lain-lainnya. Seperti yang
tertuang dalam syair seorang Sufi yang bernama al-Bhusairi.
“Sesungguhnya diantara kedermawananmu, Adalah dunia dan kehayaan yang
ada di dalamnya Dan diantara ilmumu, Adalah ilmu lauhul mahfudz dan
Qalam (takdir).”

Lebih dari itu, sebagian kaum Sufi ada yang berkeyakinan bahwa diantara
para wali (atau yang mereka anggap wali) ada yang mendapat kuasa dari
Allah untuk mengatur alam semesta. Seorang penulis Sufi berkata dalam
kitabnya yang berjudul: al-Kaafi FirRaddi ‘Alal Wahabi sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah memiliki beberapa hamba yang bila mengatakan kepada
sesuatu: ‘Kun’ (jadilah) maka ia akan terjadi!” Dan yang lebih parah
dari itu, sebagian kaum Sufi mempercayai bahwa Allah menitis kepada
para Makhluk-Nya. Seperti aqidah Ibnu Arabi (1), yang pernah berkata
dalam syairnya: “Tuhan adalah hamba, hamba adalah Tuhan. Duhai kiranya
siapakah yang mukallaf (yang bertugas beribadah).”

Keyakinan-keyakinan seperti itu tidaklah dimiliki oleh Arab jahiliyah,
mereka masih meyakini bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur alam
semesta. Simaklah firman Allah berikut ini: “Dan siapakah yang mengatur
segala urusan? Mereka rnen jawab: ‘Allah’.” (Yunus: 31).

Syirik Ditinjau Dari Akibat Yang Ditimbulkan

1. Syirik Akbar (Syirik Besar)

Syirik Akbar yaitu yang mengakibatkan pelakunya ke luar dari agama
Islam, serta kekal selama-lamanya dalam neraka bila tidak taubat
darinya. Hakikat syirik akbar adalah “memalingkan salah satu jenis
ibadah kepada selain Allah!”. Seperti memohon kepada selain Allah,
menyembelih hewan kurban yang ditujukan untuk selain Allah, bernadzar
untuk selain Allah, takut kepada selain Allah, seperti takut kepada
mayat, kuburan, jin, setan disertai keyakinan bahwa hal-hal tersebut
dapat memberi bahaya dan mudharat kepadanya, memohon perlindungan
kepada selain Allah, seperti meminta perlindungan kepada jin dan orang
yang sudah mati, mengharapkan sesuatu yang tidak dapat diwujudkan
kecuali oleh Allah, seperti meminta hujan kepada pawang, meminta
penyembuhan kepada dukun dengan keyakinan dukun itulah yang
menyembuhkannya, mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib dan
lain-lainnya.

Macam-Macam Syirik Besar

Syirik besar ada beberapa macam:

1. Syirik Dalam Berdo’a

Yaitu meminta kepada selain Allah, di samping meminta kepadaNya. Allah
berfirman dalam kitab-Nya: “Maka apabila mereka naik kapal, mereka
berdo’a hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Namun
tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka
kembali mempersekutukan Allah.” (Al-Ankabut: 65). Dalam ayat lain Allah
berfirman: “Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai
apa-apa walaupun setipis kalit ari. Jika kamu meminta kepada mereka,
mereka tiada mendengar seruanmu dan kalau mereka mendengar mereka tidak
dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan
mengingkari kemusyrikanmu. Dan tidak ada yang dapat memberikan
keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha
Mengetahui.” (Faathir: 13-14).

2. Syirik Dalam Sifat Allah

Seperti keyakinan bahwa para nabi dan wali mengetahui perkara-perkara
ghaib. Allah telah membantah keyakinan seperti itu di dalam firman-Nya:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59). Dalam ayat lain
Allah berfirman “(Dialah Rabb) Yang Mengetahai perkara ghaib, maka Dia
tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali
kepada Rasul yang diridhai-Nya.” (Al-Jin: 26-27). Pengetahuan tentang
hal yang ghaib merupakan salah satu hak istimewa Allah. menisbatkan hal
tersebut kepada selainNya adalah syirik akbar.

3. Syirik Dalam Mahabbah (Kecintaan)

Yaitu mencintai seseorang, baik wali atau lainnya sebagaimana mencintai
Allah atau menyetarakan cintanya kepada makhluk dengan cintanya kepada
Allah. Mengenai hal ini Allah berfirman: “Dan diantara manusia ada
orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka
mencintainya sebagaimana rnereka mencintai Allah, adapun orang-orang
yang beriman sangat cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165). Yang
dimaksud dengan mahabbah (kecintaan) dalam ayat ini adalah mahabbatul
ubudiyah (2), yaitu cinta yang dibarengi dengan ketundukan dan
kepatuhan mutlak serta mengutamakan yang dicintai daripada yang
lainnya. Mahabbah seperti ini adalah hak istimewa Allah. Hanya Allah
saja yang berhak dicintai seperti itu, tidak boleh diperlakukan dan
disetarakan dengan Nya sesuatu apapun. Mahabbah terbagi dua:

a. Mahabbah Mahdhah (Mahabbah Ubudiyah), yaitu mahabbah (kecintaan)
yang membuat tunduk dan patuh kepada yang dicintai. Ini hanyalah bagi
Allah semata.

b. Mahabbah Musytarikah. Terbagi manjadi tiga jenis:

1) Mahabbah Thabi’iyah (kecintaan kepada sesuatu secara tabiat). Seperti kecintaan orang yang lapar kepada makanan.

2) Mahabbah Isyfaq (kasih sayang) seperti: Kecintaan (kasih sayang) orang tua kepada anaknya.

3) Mahabbah Unus dan Ilf seperti: kecintaan seseorang kepada temannya.

Ketiga jenis mahabbah di atas tidaklah membuat seseorang tunduk dan
patuh secara mutlak kepada yang dicintai. Hal itu wajar saja terdapat
pada diri seseorang hamba. Namun harus diperhatikan, jika bertabrakan
antara mahabbah mahdhah dengan mahabbah musytarikah, maka kita wajib
mendahulukan mahabbah mahhdah. Dalilnya firman Allah, “Katakanlah:
‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu,
kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang
kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu
sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari jihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik’.” (At-Taubah:
24).

4. Syirik Dalam Ketaatan

Yaitu ketaatan kepada makhluk, baik wali ataupun alama dan
lain-lainnya, dalam mendurhakai Allah. Seperti: mentaati mereka dalam
menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang
dihalalkan oleh Allah. Mengenai hal ini Allah berfirman: “Mereka
menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan
selain Allah.” (At-Taubah: 31). Rasulullah pernah membacakan ayat
tersebut di hadapan ‘Adiy bin Hatim athTha’i, dia dahulunya memeluk
agama Nasrani, ‘Adiy langsung berkata: “Yaa Rasulullah, kami dahulunya
tidak menyembah mereka!” Rasulullah, pun bersabda: “Bukankah mereka
menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah, lalu kamu juga ikut
menghalalkannya, mereka mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah,
lalu kamu ikut mengharamkannya?” “Benar!” jawab ‘Adiy. “Begitulah
dahulunya kamu menyembah mereka!” jawab Beliau. (HSR Tirmidzi). Taat
kepada ulama dalam hal kemaksiatan inilah yang dimaksud dengan
menyembah berhala mereka! Berkaitan dengan ayat di atas, Rasulullah
menegaskan: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat
kepada al-Khaliq (Allah).” (HSR Ahmad).

5. Syirik Khauf (Takut)

Yaitu keyakinan bahwa sebagian makhluk, baik wali ataupun yang lainnya
yang sudah meninggal dunia, atau makhluk-makhluk yang ghaib bisa
melakukan dan mengatur urusan serta mendatangkan mudharat. Karena
keyakinan itulah mereka menjadi takut kepada wali-wali atau
makhluk-makhluk ghaib tersebut. Kaum Musyrikin Arab menyakini bahwa
berhala-berhala mereka dapat menimpakan madharat kepada manusia. Oleh
karena itu mereka menakut-nakuti Rasulullah dengan berhala-hala
tersebut. Allah menceritakannya di dalam al-Qur’an: “Bukankah Allah
cukup sebagai pelindung hamba-hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakuti kamu
dengan (sesembahan-sesembahan) yang selain Allah.” (Az-Zumar: 36).
Keyakinan seperti ini merupakan syirik akbar yang mesti dijauhi.
Jenis-Jenis Khauf:

a. Khauf Sirri. Yaitu: Takut kepada selain Allah berupa berhala,
thaghut, mayat, makhluk ghaib seperti jin, dan orang-orang yang sudah
mati, dengan keyakinan bahwa mereka dapat menimpakan mudharat kepada
makhluk. Khauf sirri ini termasuk salah satu jenis ibadah yang harus
dimurnikan bagi Allah semata. Allah berfirman: “Janganlah kamu takut
kepada mereka, takutlah kamu kepada-Ku jika kamu benar-benar orang
beriman.” (Ali Imran: 175).

b. Takut Yang Menyebabkan Seseorang Meninggalkan Kewajibannya, seperti:
Takut kepada seseorang sehingga menyebabkan kewajiban ditinggalkan.
Takut seperti ini hukumnya haram, bahkan termasuk syirik ashghar
(syirik kecil). Berkaitan dengan hal tersebut, Rasulullah bersabda:
“Janganlah seseorang dari kamu menghinakan dirinya!” Shahabat bertanya:
“Bagaimana mungkin seseorang menghinakan dirinya sendiri!” Rasul
bersabda: “Yaitu, ia melihat hak Allah yang harus ditunaikan, namun
tidak ditunaikannya. Maka Allah akan berkata padanya di hari kiamat:
‘Apa yang mencegahmu untuk mengucapkan begini dan begini?’ Ia menjawab:
“Karena takut kepada’ Allah berkata: ‘Seharusnya hanya kepada-Ku saja
engkau takut’.” (HSR Ibnu Majah dari Abu Said alKhudri).

c. Takut Secara Tabiat. Yaitu takut yang timbul karena fitrah manusia
seperti takut kepada hewan liar, binatang buas, atau kepada orang jahat
dan lain-lainnya. Takut jenis ini tidak termasuk syirik, hanya saja
seseorang janganlah terlalu didominasi rasa takutnya sehingga dapat
dimanfaatkan setan untuk menyesatkannya.

6. Syirik Hulul

Yaitu mempercayai bahwa Allah menitis kepada makhluk-Nya. Ini adalah
aqidah Ibnu Arabi dan keyakinan sebagian kaum Sufi yang ekstrem. Hingga
di antara mereka ada yang berkata dalam syairnya: “Anjing dan babi
tidak lebih melainhan tuhan kita juga. Dan tidak lebih, Allah itu
hanyalah seseorang rahib yang ada di gereja.” Maha suci Allah dan apa
yang mereka ucapkan. Sangat buruklah kalimat yang keluar dari
mulut-mulut mereka, yang mereka ucapkan itu hanyalah dusta belaka.

7. Syirik Tasharruf

Yaitu keyakinan bahwa sebagian para wali miliki kuasa untuk bertindak
dalam mengatur urusan makhluk. Mereka menamakan para wali tersebut
dengan “Wali Quthub”, di Negeri Pakistan orang awam menyebutnya: “Pauc
Piir” (wali lima), yang diyakini berhak mengatur jagad raya. Keyakinan
seperti ini jelas lebih sesat daripada keyakinan Musyrikin Arab yang
masih menyakini Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta.

8. Syirik Hakimiyah

Termasuk syirik hakimiyah adalah membuat undang-undang yang
bertentangan dengan syari’at Islam, serta membolehkan diberlakukannya
undang-undang tersebut atau beranggapan bahwa hukum Islam tidak sesuai
lagi dengan zaman. Yang tergolong musyrik dalam hal ini adalah para
hakim yang membuat dan memberlakukan undang-undang, serta orang-orang
yang mematuhinya, jika menyakini kebenaran undang-undang tersebut dan
rela dengannya.

9. Syirik Tawakkal

Secara etimologi, tawakkal ialah bersandar dan pasrah, jadi tawakkal
termasuk amalan hati. Secara syar’i adalah pasrah dengan
sebenar-benarnya dan menyerahkan perkara kepada Allah setelah berusaha
dengan sungguh-sungguh. Ia termasuk jenis ibadah yang wajib dimurnikan
bagi Allah saja. Allah berfirman dalam kitab-Nya: “Hendaklah kamu
bertawakkal kepada Allah saja, jika kamu benar-benar orang yang
beriman.” (Al-Maidah: 23). Tawakkal ada tiga jenis:

a. Tawakkal dalam perkara yang hanya mampu dilaksanakan oleh Allah
saja. Tawakkal jenis ini harus diserahkan kepada Allah semata, jika
seseorang menyerahkan atau memasrahkannya kepada selain Allah, maka ia
termasuk Musyrik.

b. Tawakkal dalam perkara yang mampu dilaksanakan para makhluk.
Tawakkal jenis ini seharusnya juga diserahkan kepada Allah, sebab
menyerahkannya kepada makhluk termasuk syirik asghar (syirik kecil).

c. Tawakkal dalam arti kata mewakilkan urusan kepada orang lain dalam
perkara yang mampu dilaksanakannya. Seperti: Dalam arusan jual beli,
pernikahan dan lain-lainnya. Tawakkal jenis ini diperbolehkan, hanya
saja, hendaklah seseorang tetap bersandar kepada Allah meskipun urusan
itu diwakilkan kepada makhluk.

10. Syirik Niat Dan Maksud

Yaitu beribadah dengan maksud mencari pamrih manusia semata, mengenai
hal ini Allah berfirman: “Barangsiapa menghendaki kehidapan dunia dan
perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan
mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak akan
dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali
neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di
dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16).
Syirik jenis ini banyak menimpa kaum Munafikin yang telah terbiasa
beramal karena riya’.

2. Syirik Ashghar (Syirik Kecil)

Syirik Ashghar syirik yang tidak mengeluarkan pelakunya dari dienul
Islam, hanya mengurangi nilai tauhid. Ia merupakan dosa besar yang
dapat menghantar kepada syirik akbar.

Macam-Macam Syirik Asghar

Syirik Asghar terbagi menjadi dua:

1. Dhahir (Nyata)

Syirik Dhahir juga terbagi dua:

a. Berupa ucapan. Seperti: Bersumpah dengan selain nama Allah; Ucapan:
“Maa Sya Allah wa Syi’ta” (atas kehendak Allah dan kehendakmu), ucapan:
“Kalan bukan karena Allah dan karena Fulan” dan lain lainnya. Hal ini
berdasarkan sabda Nabi, “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama
Allah, maka ia telah berbuat syirik.” (HSR Ahmad). Dan sabda nabi yang
lain: “Janganlah kamu berkata: ‘Atas kehendak Allah dan kehendak
fulan.’ tapi katakanlah: ‘Atas kehendak Allah, kemudian kehendak
fulan’.” (HSR Ahmad).

b. Berupa amalan. Seperti: Memakai gelang, benang, dan sejenisnya
sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya, jika ia menyakini bahwa
benda-benda tersebut hanya sarana tertolak atau terangkatnya bala’.
Namun, bila dia menyakini bahwa benda-benda itulah yang menolak dan
menangkal bala’, hal itu termasuk syirik akbar.

2. Khafi (Tersembunyi)

Adapun syirik khafi (tersembunyi) adalah syirik yang bersumber dari amalan hati, seperti: Riya, sumi’ah dan lain-lainnya.

Hakikat Riya

Riya adalah melakukan perbuatan karena makhluk, seperti seorang yang
shalat dan puasa karena mertua, agar dipuji orang dan lain-lainnya.
Mengenai hal ini Allah berfirman: “Barang siapa yang mengharap
perternuan dengan Rabb-Nya, hendaklah ia mangerjakan amal shalih, dan
jangan ia mempersekutuhan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya.”
(Al-Kahfi: 110). Rasulullah juga pernah bersabda: “Sesungguhnya yang
paling aku khawatirkan atas kamu sekalian adalah syirik kecil yaitu
Riya’. Pada hari kiamat ketika Allah mernberi balasan manusia atas
amalan mereka, Allah berfirman: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang
yang kalian tunjukan amalanrnu kepada mereka di dunia, lihatlah, apakah
engkau dapati balasan di sisi mereka?’” (HSR Ahmad).

Demikianlah selayang pandang tentang syirik dan macam-macamnya. Semoga
Allah memberi taufik kepada kita semua dalam menjauhi segala macamnya.
Amin Ya Robbal Alamin. Rasulullah mengajarkan sebuah do a kepada ummat,
agar berlindung diri dari bahaya syirik. Do’a tersebut sebagai berikut:
“Yaa Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu, sedang kami
mengetahuinya, dan kami memohon ampun kepada-Mu (atas dosa syirik yang
kami lakukan) sedang kami tidak mengetahuinya.” (HSR. Ahmad).

Pustaka

1. Minhajul Firgatin Najiyah Muhammad Jamil Zainu

2. Al-Irsyad Ilaa Shahih I’tiqad Shalih bin Fauzan

3. Kitab Tauhid Muhammad bin Abdul Wahhab

4. Kitab Taahid Lish-Shaf Tsalits

Catatan Kaki:

1. Bukan Ibnul ‘Arabi, karena beliau (Ibnul ‘Arabi) termasuk ulama.

2. Cinta yang mengandung unsur ibadah.

(Disalin dari majalah As-Sunnah 09/IV/1421-2000 hal. 11-19. Didownload dari http://www.vbaitullah.or.i d)

Wallahua’lam Bishshawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s