Film Gaza 2009


gaza 2009
Film berjudul “Gaza 2009” keluar sebagai pemenang pada Festival Film Internasional Kairo (Mahrajan al-Qahirah as-Sinima’i ad-Duwali/Cairo International Film Festival) 2009 yang digelar selama pekan terakhir bulan November kemarin.

Film produksi Syirkah Filasthin li al-Intaj al-I’lami (PMP), Gaza, itu keluar sebagai pemenang setelah menyisihkan 400 film Arab lainnya yang ikut serta dalam festival tersebut.

“Gaza 2009” merupakan film-romantika yang sarat akan pesan kemanusiaan. Kisahnya benar-benar menguras air mata dan menggugah emosi siapapun yang menontonnya. Betapa tidak, film tersebut menceritakan tentang potret kehidupan warga Palestina yang menyayat hati di bawah pendudukan Israel, khususnya di wilayah Jalur Gaza yang mengalami blokade selama beberapa tahun terakhir.

Di tengah kondisi yang mengenaskan itu, mencuatlah kisah cinta seorang pemuda-Muslim dari Gaza dengan seorang gadis-Yahudi dari Nazaret, Israel. Pemuda Gaza itu bekerja di Nazaret, dan di kota kelahiran Isa al-Masih itulah keduanya berkenalan dan saling memadu kasih. Keduanya pun lantas menikah, setelah si gadis memeluk Islam dan ikut suaminya ke Gaza yang nelangsa.

Tentu saja, sejuntai problem perbedaan dua identitas menjuntai dan menghiasi lika-liku kehidupan mereka pasca menikah, dan setelah mempunyai buah hati sebanyak enam anak. Sebagian dari anak-anak mereka, misalnya, justru bercakap dalam bahasa Ibrani, belajar Talmud dan Taurat di Israel.

Sutradara film, Musthafa an-Nabih, berwarganegara Palestina, menyatakan jika kisah film “Gaza 2009” sendiri diilhami dari kisah nyata. Dikatakannya, problem dan konflim mulai muncul dalam kehidupan dua sejoli itu setelah delapan tahun usia pernikahan mereka.

Problem tersebut berpangkal dari keadaan kehidupan di Gaza yang serba sulit pasca blokade Israel. Bisa dibayangkan, pasca blokade itu, Gaza benar-benar seperti wilayah purba: tak ada air bersih, bahan bakar, pasokan makanan, obat-obatan, dan listrik. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya kehidupan di sana. Sang istri rupanya merasa tak kuasa hidup di tengah kondisi kehidupan yang benar-benar sengsara seperti itu.

Sang istri pun memutuskan untuk kembali ke Nazaret, kampung halaman asalnya. Ia pun kabur bersama tiga orang anaknya, sementara tiga anak lainnya tinggal bersama si bapak di Gaza. Dua dari tiga anak mereka yang kemudian hidup bersama bapaknya adalah si kembar-bungsu yang baru berusia 27 hari, salah satunya bahkan cacat.

Di Nazaret, si istri dan ketiga anak yang dibawanya, yang paling besar bernama Yasmin (9 tahun), dan menjadi salah satu tokoh utama di film tersebut, kembali memeluk agama Yahudi, sekaligus semua anaknya.

Penderitaan si lelaki tak hanya berhenti sampai di sana saja. Dinas intelejen Israel memaksanya untuk meninggalkan semua anaknya, untuk diboyong ke wilayah negeri itu dan menjadi warga negara Israel. Puncaknya, di hari terakhir penyerbuan Israel ke Gaza di awal tahun lalu, lelaki itu pun mati dirajam peluru dan roket pesawat Israel.

An-Nabih, sang sutradara, bercerita bahwa pasca berakhirnya agresi Israel ke Gaza di awal tahun yang lalu, pihaknya segera mengunjungi wilayah tersebut, untuk membuat film dokumenter. Saat itu, secara tak sengaja ia mendengar kisah Yasmin dan keluarga Gaza-Palestina dan Nazaret-Israel ini.

“Saat mengunjungi Gaza setelah agresi Israel berakhir, saya mendengar kisah Yasmin yang dibawa kabur oleh ibunya dari Gaza. Keluarga ini pun terpecah, menjadi keluarga Muslim dan Yahudi,” kata an-Nabih.

Ditambahkan oleh seniman kenamaan Palestina itu, pesan utama dari film garapannya adalah nilai-nilai kemanusiaan. “Di film itu, kami ingin menyuguhkan kisah kemanusiaan, yang sangat nyata, dan sangat memukul. Betapa sebuah keluarga yang mulanya harmonis menjadi hancur dan menjadi terbelah,” terang an-Nabih.

Sebelumnya, film “Gaza 2009” juga menjadi pemenang kategori film dokumenter pada Festival Film Arab yang digelar di Tunisia belum lama ini.

Untuk maklumat lebih jauh tentang film Gaza 2009, dapat diakses di situs produser film tersebut, yaitu http://www.pmptv.tv (ags)

eramuslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s